RSS

Kisah Dua Saudara

06 Jul

Kisah dari Turki.

Adalah seorang raja di Turki yang memiliki seorang putra dan seorang putri. Ketika raja wafat, putranya menggantikan dirinya menaiki tahta. Hingga suatu hari putra raja tersebut menyadari bahwa mereka telah pailit. Harta kekayaan mereka yang dulu berlimpah kini menyusut.

“Adikku mari kita pergi dari istana ini!” kata Putra raja suatu hari. “Kita telah kehilangan harta kita. Dan sebelum orang lain mengetahuinya, kita harus pergi jauh kemana tidak seorang pun mengenal kita. Dengan begitu kita akan terhindar dari rasa malu dan penghinaan.”

Malamnya, saat semua orang sedang terlelap, mereka menyelinap dan bergegas meninggalkan kerajaan. Mereka terus berjalan tak tentu arah melewati padang gersang yang hampir tanpa batas. Panas matahari yang membakar membuat mereka kehausan dan hampir pingsan. Tiba-tiba mereka menemukan genangan air di depan mereka.
“Adikku,” kata Putra raja, “aku tidak sanggup lagi menahan rasa haus ini. Sebaiknya kita minum saja air genangan itu.”
“Tapi kak, bagaimana kita tahu kalau itu adalah air yang bisa diminum,” kata Putri. “Lebih baik kita berjalan lebih jauh sedikit. Siapa tahu kita bisa menemukan kolam atau mata air, dan kita bisa minum di sana!”
“Tidak! Aku tidak sanggup melangkah sebelum rasa hausku hilang,” tolak Putra raja. Putri terpaksa menciduk air genangan itu dan memberikannya pada Putra yang segera meminumnya tanpa sisa. Dan wuzz, Putra raja tiba-tiba berubah menjadi seekor Kijang. Putri menangisi nasib saudaranya. Namun apa daya nasi telah menjadi bubur. Mereka tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan wujud Putra ke bentuk aslinya.

Mereka memutuskan untuk meneruskan perjalanan mereka hingga tiba di sebuah mata air yang sangat luas. Di sana mereka memutuskan untuk beristirahat.
“Adikku. Naiklah ke atas pohon! Aku akan pergi mencari makan,” kata Putra.
Putri memanjat pohon di pinggir mata air tersebut sementara Putra pergi berburu. Tidak berapa lama ia kembali membawa seekor ayam hutan. Lalu Putri memasaknya untuk dimakan mereka berdua. Demikianlah mereka bertahan hidup dari hari ke hari dan minggu ke minggu.

Suatu pagi seperti biasa Putri duduk di atas ranting pohon di pinggir mata air sementara Putra pergi berburu. Kebetulan seorang pekerja dari kerajaan yang menguasai wilayah itu datang untuk memberi minum kuda-kuda Raja. Kuda-kuda itu memang terbiasa minum di mata air karena airnya yang sangat jernih. Namun pagi itu kuda-kuda tersebut melihat bayangan Putri terpantul di permukaan mata air dan membuat kuda-kuda itu ketakutan. Pekerja istana mengira air yang diambilnya untuk memberi minum kuda-kuda itu kotor sehingga mereka menolak untuk meminumnya. Ia segera mengganti air di wadah dengan yang baru. Tapi tetap saja mereka menolaknya. Pekerja itu segera melaporkan kejadian itu kepada Raja.
“Mungkin airnya kotor,” kata Raja.
“Tidak Tuan. Saya sudah menggantinya berkali-kali dengan air yang baru langsung dari mata air, “ jawab Pekerja.
“Kembalilah ke sana dan periksalah di sekitar mata air, mungkin ada sesuatu yang membuatnya takut,” perintah Raja.

Pekerja itu kembali ke mata air. Setelah memeriksa dengan teliti, ia melihat bayangan seorang gadis yang sedang bertengger di ranting pohon terpantul di permukaan mata air. Dengan terkejut ia bergegas melaporkannya kepada Raja. Raja tentu saja penasaran. Ia segera pergi ke mata air untuk melihat sendiri gadis tersebut. Raja terpesona saat melihat kecantikan Putri yang bagaikan sinar bulan.
“Wahai Gadis yang cantik, siapakah anda? Jinkah atau Peri?” seru Raja.
“Aku bukanlah Jin ataupun Peri melainkan adalah manusia biasa,” jawab Putri.
“Sudikah anda untuk turun kemari dan menemuiku,” pinta Raja.
“Ampun Tuan, aku tidak bisa karena aku telah berjanji pada saudaraku,” tolak Putri.

Mula-mula Raja mencoba membujuknya supaya ia mau trun dari atas pohon, namun tidak berhasil. Lama-lama Raja menjadi kesal dan marah. Ia menyuruh pengawalnya untuk merobohkan pohon tersebut. Para pengawal menghunus pedangnya masing-masing dan mulai menebang cabang-cabangnya. Namun ketika pekerjaan mereka hampir selesai, sore pun tiba. Mereka memutuskan untuk meneruskannya esok hari. Ketika para penebang pergi, Putra datang dan heran melihat keadaan pohon yang menjadi gundul. Ia bertanya pada adiknya tentang apa yang telah terjadi. Putri menjelaskan bahwa Raja menyuruhnya turun namun ia menolaknya.
“Kau telah melakukan hal yang benar, adikku. Jangan turun, apapun yang terjadi,” perintah Putra.
Ia kemudian menjilati pohon itu. Ajaib, pohon yang telah kehilangan banyak cabangnya itu kembali menumbuhkan cabangnya lebih lebat dari semula. Para Pemburu terkejut melihat cabang pohon yang tumbuh lebih lebat dari sebelumnya. Namun tanpa mengeluh mereka kembali memotong-motong cabang pohon itu. Sayang sore keburu datang sebelum mereka dapat menumbangkan pohon itu dan memutuskan untuk kembali esok hari. Seperti kemarin, pohon itu kembali bercabang lebih lebat ketika para pemburu itu datang kembali. Dengan putus asa mereka menghadap Raja dan menceritakan semuanya.

Raja mencari cara lain untuk mewujudkan keinginannya. Ia menemui seorang Nenek sihir dan menawarkan sejumlah hadiah seandainya ia dapat membuat si Gadis turun dari pohon.
“Serahkan padaku Tuan!” katanya.

Nenek sihir pergi ke tepi mata air dengan membawa sebuah ketel. Berpura-pura buta ia mengisi ketel yang sengaja ia taruh terbalik sehingga tentu saja airnya tumpah.
“Nenek, anda menaruh ketelnya terbalik! Airnya jadi tumpah nek,” teriak Putri dari atas pohon.
“Oh Nak,” kata Nenek sihir “Dimanakah kamu? Aku tak bisa melihatmu? Bisakah kau membantuku membalikkan ketelnya?” Namun Putri teringat pesan kakanya, maka ia mengurungkan niatnya untuk menolong si Nenek.

Esoknya Nenek sihir itu datang lagi. Ia berjongkok di bawah pohon, menyalakan api dan seolah-olah hendak memasak makanan. Namun bukannya makanan yang ia masukkan ke dalam penggorengan melainkan abu dan batu.
“Nenek buta yang malang, yang kau masukkan itu bukan makanan tapi abu dan batu!” teriak Putri dari atas pohon.
“Aku buta nak!” kata Nenek itu pura-pura marah. “Kalau kau baik hati, turunlah dan Bantu aku!”
Sekali lagi usaha Nenek sihir tidak berhasil karena Putri tetap bertahan untuk tidak turun dari atas pohon.

Pada hari ketiga Nenek sihir kembali datang. Kali ini ia membawa seekor kambing untuk disembelih. Kemudian ia sengaja tidak menyembelih kambing itu dengan mata pisau melainkan dengan gagangnya. Putri yang menyaksikan peristiwa itu, kali ini benar-benar merasa kasihan. Tanpa pikir panjang ia segera turun dari pohon untuk menolong si Nenek. Tapi tiba-tiba hups…Raja yang sedari tadi bersembunyi di semak-semak menangkapnya dan membawanya ke istana. Raja begitu mengagumi kecantikan Putri sehingga ia ingin sekali menikahinya. Namun dengan tegas Putri menolaknya sebelum Raja menemukan saudaranya. Singkatnya para pengawal menemukan Putra yang masih berwujud Kijang dan membawanya ke istana.

Sejak tinggal di istana, Putra dan Putri selalu bersama. Bahkan mereka tidur di kamar yang sama. Ketika akhirnya Raja menikahi Putri, Putra tetap tidur bersama mereka. Setiap kali mereka hendak beristirahat, Putra akan mengelus Putri dengan keningnya sebagai tanda kasih sayangnya.

Waktu berlalu begitu cepat bagi insan yang berbahagia. Namun kebencian juga muncul di hati seorang Gadis pelayan berkulit hitam yang keinginannya untuk mendapatkan Raja tak terwujud. Ia menanti kesempatan untuk membalaskan sakit hatinya pada Putri yang merebut cintanya.

Di sekitar istana ada sebuah taman yang sangat indah dan di tengahnya ada sebuah kolam yang besar. Di sinilah biasanya Putri menghabiskan waktu senggangnya. Biasanya untuk menikmati minuman segar dari cangkir emasnya. Dan dengan sepatu peraknya ia berjalan-jalan di sekeliling kolam. Suatu sore saat Putri sedang berdiri di pinggir kolam, pelayan itu datang dan mendorong putri hingga terjatuh ke dalam kolam. Di dalam kolam itu ada seekor ikan yang sangat besar. Begitu tubuh Putri tercebur, ikan raksasa itu segera menelannya.

Si pelayan lalu pergi ke kamar Putri dan mengganti baju yang dipakainya dengan pakaian Putri. Tak berapa lama Raja datang dan heran melihat wajah Putri yang begitu berubah.
“Tadi aku jalan-jalan di taman dan matahari begitu menyengat sehingga wajahku terbakar,” katanya berbohong.
Raja yang tidak menaruh curiga mencoba menghiburnya dengan memeluknya. Namun Putra segera mengetahui bahwa Gadis itu bukan saudaranya. Ia mendorongnya sehingga Gadis itu ketakutan. Ia memutuskan untuk menyingkirkan Putra karena dianggapnya berbahaya.

Suatu hari putri berpura-pura sakit. Ia membayar seorang tabib untuk menyatakan bahwa ia hanya bisa sembuh jika ia makan hati seekor kijang. Raja lalu meminta izin untuk menyembelih saudaranya.
“Apa hendak dikata,” desah Gadis itu. “Jika ia tidak mau memberikan hatinya, maka aku akan mati. Lagipula kalau ia mati maka penderitaannya akan berakhir. Ia tidak perlu menjadi seekor Kijang lagi.”
Maka Raja menyuruh para pelayan untuk menyiapkan pisau yang tajam dan air yang mendidih.

Putra yang malang menyadari bahwa ia dalam bahaya. Ia segera berlari ke pinggir kolam dan memanggil-manggil adiknya.

“Oh adikku…
Pisau tajam tlah disiapkan
Air mendidih tlah dituangkan
Cepat tolonglah aku!”

Lalu terdengar suara Putri dari dalam kolam

“Inilah aku di perut ikan
Di tanganku cangkir emasku
Di kakiku Sepatu perakku
Dan di pangkuanku pangeran tampan”

Raja dan pengawalnya datang dan mendengar suara Putri dari dalam kolam. Segera ia memerintahkan untuk menangkap ikan itu dan membelahnya. Benar saja, di dalamnya Putri duduk memangku seorang bayi. Ternyata ia melahirkan saat berada di dalam perut ikan. Sementara itu Putra tanpa sengaja terkena cipratan darah ikan ketika ikan itu dibelah. Dan lo! Ia pun kembali menjadi manusia. Mereka semua gembira bisa berkumpul kembali.

Raja kemudian memanggil Putri palsu.
“Pilihlah mana yang lebih kau sukai: 40 pedang atau 40 kuda?” tanya Raja.
“Pedang adalah untuk membunuh musuhku. Aku memilih Kuda yang bisa kutunggangi,” jawab Putri palsu.
Pelayan wanita itu akhirnya tewas setelah ke 40 kuda tersebut menyeretnya dan menginjak-injaknya.

Kini Raja, Putri, Putra dan Pangeran kecil kembali hidup damai dan bahagia untuk selamanya.

 
Leave a comment

Posted by on 06/07/2011 in Dongeng Anak

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: