RSS

Teryosha

12 Jul

Dongeng dari Rusia.

Jaman dahulu kala, di tepi hutan hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua. Karena tidak dikaruniai seorang anak pun mereka sering merasa kesepian. Suatu hari si Ayah menebang kayu di hutan dan membuatkan Ibu sebuah boneka kayu. Ibu sangat senang sekali, dia membuatkan baju untuk boneka itu, menggendongnya bahkan bersenandung meninabobokannya:

Tutuplah matamu yang indah, Teryosha,
Tidurlah anakku sayang!
Semua burung dan ikan,
Semua kelinci dan serigala
Telah pulang ke tengah rimba,
Tidurlah anakku sayang!

Lama-kelamaan, boneka kayu yang dipanggil Teryosha itu semakin mirip manusia sampai akhirnya dia menjelma menjadi seorang anak laki-laki yang cerdas. Ayah membuatkannya sebuah perahu kecil berwarna putih dengan sepasang dayung berwarna merah. Teryosha menaiki perahu tersebut dan berkata:

Perahu kecilku, lakukanlah apa yang kumau
Bawalah aku ketempat ikan berkumpul.

Perahu kecil itu perlahan-lahan mulai bergerak ke tengah sungai, makin lama makin jauh.
Sejak saat itu setiap hari teryosha pergi memancing. Siang hari ibunya akan datang ke tepi sungai dengan membawa makan siang, lalu mulai bernyanyi memanggil Teryosha:

Datang dan makanlah, Teryosha anakku,
Ibu bawakan susu, keju, roti dan madu!

Teryosha, mendengar suara ibunya dari kejauhan, akan segera mendayung perahunya ke tempat ibunya menunggu. Ibu akan mengambil ikan yang ditangkapnya, memberinya makan siang, mengganti pakaiannnya, kemudian membiarkannya berlayar lagi.

Seorang penyihir jahat melihat kejadian itu dan mulai mempelajari apa yang dilakukan ibu saat memanggil Teryosha. Dia ingin sekali menyantap teryosha. Maka, suatu hari dia datang ke tepi sungai dan mulai bernyanyi dengan suaranya yang sember:

Datang dan makanlah, Teryosha anakku,
Ibu bawakan susu, keju, roti dan madu!

Teryosha tahu bahwa itu bukanlah suara ibunya. Dia memerintahkan perahunya untuk segera menjauhi tempat si penyihir. Penyihir jahat itu lalu pergi ke tempat pandai besi dan memintanya untuk mengubah tenggorokannya sehingga dia bisa memiliki suara seindah suara ibu teryosha. Si pandai besi menuruti kemauan si penyihir. Lalu si penyihir kembali ke tepi sungai dan mulai bernyanyi memanggil Teryosha:

Datang dan makanlah, Teryosha anakku,
Ibu bawakan susu, keju, roti dan madu!

Kali ini Teryosha mengira kalau itu adalah suara ibunya, karena suaranya memang sangat mirip. Dia mulai mendayung perahunya ke tepi sungai. Dengan mudah si penyihir menangkapnya, memasukkannya ke dalam tas, dan membawanya ke tengah hutan.

Di tengah hutan ada sebuah gubuk tempat si penyihir tinggal bersama anak gadisnya yang bernama Alynoka. Penyihir menyuruh anaknya menyalakan oven dan memanggang Teryosha untuk makan malam, lalu dia pergi lagi.
Alyonka mulai menyalakan api. Ketika api membesar dan sudah sangat panas, dia menyuruh teryosha untuk berbaring di atas panggangan. Tapi Teryosha hanya duduk di atasnya, merentangkan tangan dan kakinya sehinggga Alyonka tidak bisa memasukkan panggangan tersebut ke dalam oven.
“Aku menyuruhmu berbaring,” bentak alyonka.
“Aku tidak tahu bagaimana cara berbaring. Coba tunjukan padaku…”, jawab Teryosha.
“Berbaringlah seperti kucing dan anjing tidur,” kata alyonka.
“Kalau begitu tunjukkan padaku, aku belum mengerti,” pinta Teryosha.
Alyonka lalu berbaring di atas panggangan, dan Teryosha dengan cepat mendorongnya ke dalam oven, menutup dan menguncinya rapat-rapat. Dia berlari keluar dan memanjat sebuah pohon oak tua, karena dia melihat kedatangan si penyihir di kejauhan.

Penyihir itu sangat kelaparan, dia segera membuka pintu oven dan melahap alyonka dengan rakusnya. Karena merasa kekenyangan dia keluar dan mulai bersenandung :

Ku akan bermalas-malasan dan berbaring tenang,
Dengan daging Teryosha aku senang dan kenyang!

Teryosha menjawab lirih dari atas pohon oak:

“ Dengan daging Alyonka kamu kenyang! ”

“Ah, itu hanya suara angin,” pikir si penyihir, maka dia terus bersenandung:

Ku akan bermalas-malasan dan berbaring tenang,

Dengan daging Teryosha aku senang dan kenyang!

Dan Teryosha menjawab lagi: ” Dengan daging Alyonka kamu kenyang!”

Penyihir mendongak dan melihat Teryosha duduk di atas pohon. Dia sangat marah lalu berlari ke pohon dan mencoba merobohkannya dengan cara menggigitnya. Dia terus menggigiti pohon oak sampai gigi depannya patah.
Dia berlari ke pandai besi: “Buatkan aku gigi besi.”
Pandai besi membuatkan 2 gigi besi dan memasangkannya. Lalu si penyihir menggigiti pohon oak lagi.
Dia terus menggigiti pohon oak sampai 2 gigi bawahnya patah. Dia meminta pandai besi membuatkannya dua gigi besi lagi, yang lalu dipasangnya. Lalu kembali menggigiti pohon oak tersebut. Semakin lama semakin cepat, hingga pohon oak itu mulai bergoyang-goyang dan hampir tumbang.
“Apa yang harus kulakukan?” pikir Teryosha.
Tiba-tiba dia melihat sekawanan angsa liar terbang melintas, maka Teryosha memohon bantuan pada mereka:

Oh, teman-teman baikku, angsa-angsa yang cantik,
Tolong bawalah aku pulang ke tempat ibuku yang baik!

Tetapi angsa-angsa itu menjawab: “Nanti ada sekawanan angsa lagi yang terbang di belakang kami, mereka lebih muda dan kuat daripada kami, mereka pasti bisa membawamu”.
Penyihir yang mendengar jawaban si angsa, tertawa sinis, dan menggigiti pohon oak lebih keras lagi.
Sekawanan angsa yang lain datang lagi, Teryosha kembali memohon:

Oh, teman-teman baikku, angsa-angsa yang cantik,
Tolong bawalah aku pulang ke tempat ibuku yang baik!

Tapi angsa-angsa itu menjawab: “Ada seekor anak angsa yang terbang di belakang kami, Dia bisa membawamu pulang”
Tinggal sedikit lagi gigitan maka penyihir akan bisa menumbangkan pohon oak.
Tak berapa lama, seekor anak angsa terbang melintasi kepala Teryosha, dia kembali memohon:

Wahai anak angsa yang baik hati,
Tolong bawalah aku pulang ke tempat ibu yang kusayangi!

Angsa muda itu merasa kasihan melihat Teryosha, maka dia pun membiarkan Teryosha naik ke punggungnya. Dan membawa Teryosha terbang meninggalkan si penyihir yang marah menuju rumah ibu Teryosha.
Akhirnya sampailah Teryosha dan angsa muda di rumah orangtua Teryosha. Dari balik jendela dia melihat Ibu Teryosha sedang menyajikan pancake, memberikan satu untuk ayah dan berkata: “ini satu untukmu, dan satu lagi untukku.”
“Lalu mana buatku?” tanya Teryosha dari luar rumah.
“Keluarlah dan lihat siapakah yang meminta pancake.” kata ibu kepada ayah.
Ayah keluar dan menemukan Teryosha, lalu membawanya masuk. Ibu Teryosha sangat gembira melihatnya. Dia memeluk dan menciumi Teryosha yang sangat dirindukannya.
Mereka menghadiahi si anak angsa makanan dan minuman yang banyak, dan membiarkannya bebas di halaman sampai dia tumbuh besar dan kuat. Sekarang dia siap memimpin sekelompok angsa untuk terbang, dan tidak pernah melupakan Teryosa.

Ucapan Ajaib dari Peri

Dahulu, ada seorang janda yang memiliki dua anak perempuan. Anak yang sulung angkuh dan pemarah seperti ibunya, sedangkan yang bungsu manis dan lemah lembut.

Sang ibu sangat memanjakan anaksulung nya yang memiliki sifat yang mirip dengannya, dan memperlakukan si bungsu dengan sangat buruk. Si bungsu disuruhnya melakukan hamper semua pekerjaan di rumah. Salah satu dari tugas si bungsu yang malang adalah berjalan kaki 1 kilometer jauhnya ke sebuah mata air dan membawa pulang air dalam sebuah ember besar.

Pada suatu hari saat si bungsu sedang mengambil air di mata air, seorang wanita tua datang dan meminta air untuk minum.

“Tunggu sebentar, akan kuambilkan air yang bersih untuk Ibu,” kata si bungsu kepada wanita tua itu. Diambilnya air yang paling jernih dan bersih, lalu diberikannya kepada wanita tua itu dengan menggunakan teko air agar dapat dengan mudah diminum.

Wanita tua yang sebenarnya adalah seorang peri itu berkata, “Kamu sangat sopan dan suka menolong, jadi akan kuberikan keajaiban untukmu. Setiap kata yang kamu ucapkan akan mengeluarkan sekuntum bunga, batu permata, dan mutiara dari mulutmu.”

Si bungsu tidak mengerti maksud wanita tua itu. Ia hanya tersenyum lalu berpamitan dan berjalan pulang.

Sesampainya di rumah, ibunya memarahinya karena terlalu lama membawakan air. Si bungsu meminta maaf kepada ibunya dan menceritakan kejadian yang dia alami, bahwa ia menolong seorang wanita tua yang kemudian memberinya keajaiban. Selama si bungsu bercerita, bunga-bunga, batu permata dan mutiara terus berjatuhan keluar dari mulutnya.

“Kalau begitu, aku harus menyuruh kakakmu pergi kesana.” Kata sang ibu. Lalu disuruhnya si sulung untuk pergi ke mata air dan apabila bertemu dengan seorang wanita tua, disuruhnya si sulung untuk bersikap baik dan menolongnya.

Si sulung yang malas tidak mau pergi berjalan kaki sejauh itu. Namun dengan tegas, ibunya menyuruhnya pergi, “Pergi kesana sekarang juga!!!” sambil menyelipkan wadah air dari perak ke dalam tas si sulung.

Sambil menggerutu si sulung berjalan menuju mata air. Saat tiba disana, ia berjumpa dengan wanita tua itu. Tapi kali ini wanita tua itu berpakaian indah bagaikan seorang ratu. Lalu, wanita tua itu meminta minum kepada si sulung.

“Apa kamu kira aku datang sejauh ini hanya untuk memberimu minum? Dan jangan pikir kamu bisa minum dari wadah air perakku. Kalau mau minum ambil saja sendiri di mata air itu!” kata si sulung kepada wanita tua itu.

Karena sikapnya yang kasar, wanita tua yang sebenarnya seorang peri itu mengutuknya. “Untuk setiap kata yang kamu ucapkan, seekor katak atau ular akan berjatuhan keluar dari mulutmu!”

Saat tiba di rumah, si sulung menceritakan apa yang dialaminya kepada ibunya. Saat bercerita, beberapa ekor ular dan katak berjatuhan keluar dari mulutnya.

“Astaga!”, teriak ibunya jijik. “Ini semua gara-gara adikmu. Di mana dia?”

Sang ibu lalu pergi mencari si bungsu. Karena ketakutan, si bungsu lalu lari dan bersembunyi di hutan.

Seorang Pangeran yang sedang berburu terkejut melihat seorang gadis yang sedang menangis sendirian di hutan. Ketika Pangeran itu bertanya, dengan tersedu-sedu si bungsu menceritakan apa yang terjadi. Saat bercerita, bunga-bunga, mutiara serta batu permata pun berjatuhan dari mulutnya.

Pangeran jatuh hati kepada gadis yang baik itu. Dan Pangeran juga tahu ayahnya tidak akan keberatan mendapatkan seorang menantu yang baik seperti itu, apalagi dengan mutiara serta batu permata yang terus dihasilkannya. Maka Pangeran pun membawa si bungsu ke istana, lalu mereka menikah dan hidup berbahagia.

Sementara itu di rumah, sikap si sulung menjadi semakin memuakkan, dan ia pun terus menerus mengeluarkan katak serta ular dari mulutnya, sampai-sampai ibunya pun mengusirnya dari rumah.

Karena ia tidak tahu harus kemana dan tidak ada seorangpun yang mau menampungnya karena sifatnya yang buruk, ditambah dengan katak-katak dan ular-ular yang terus keluar dari mulutnya, maka akhirnya ia pun tinggal sendirian di tengah hutan.

 
Leave a comment

Posted by on 12/07/2011 in Dongeng Anak

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: